Friday, 4 December 2015

Sinopsis Novel - Pulang

Judul                : Pulang
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Republika
Tebal               : 404 halaman
Sinopsis           :

“Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya.”

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

“Selalu ada hal baru yang bisa direnungi dan dipahami dari novel-novel Tere Liye.”
—Pulin Sri Lestari, ibu rumah tangga

“Saat ini kita cenderung tidak lagi peduli pada banyak hal, namun novel-novel Tere Liye membantu kita untuk melihat lebih dalam dan peduli.”
—Tiara, guru/dosen

“Kayak buku pelajaran, tapi seru. Mamah kamu nggak akan ngambek kalau kamu baca novel-novel Tere Liye.”
—Khoerun Nisa, siswi SMA

“Membaca novel-novel Tere Liye seperti pulang ke rumah. Berapa jauh pun kaki melangkah, selalu ingin kembali.”

—Evi, buruh migran Indonesia

Sinopsis Novel - Jingga dan Senja


Judul                : Jingga dan senja
Penulis             : Esti Kinasih
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tebal               : 312 halaman
Sinopsis           :

Tari dan Ari, dua remaja yang dipertemukan oleh takdir. Selain bernama mirip, mereka juga sama-sama lahir sewaktu matahari terbenam.
Namun, takdir mempertemukan mereka dalam suasana “perang”. Ari yang biang kerok sekolah baru kali ini bertemu cewek, adik kelas pula, yang berani melawannya. Kemarahan Ari timbul ketika tahu Tari diincar oleh Angga, pentolan SMA musuh.

Angga, musuh bebuyutan sekolah Ari sekaligus musuh pribadi Ari, langsung berusaha mendekati Tari begitu cewek itu tak sengaja terjebak dalam tawuran dan Ari berusaha keras menyelamatkannya. Demi dendam pada masa lalu, Angga bertekad harus bisa merebut cewek itu. Memanfaatkan peluang yang ada, Angga kemudian maju sebagai pelindung Tari.

Ari yang selama ini dikenal tidak peduli terhadap cewek tiba-tiba saja berusaha mendapatkan Tari dengan segala cara. Namun, predikat buruk Ari jelas membuat Tari tidak ingin berurusan dengan cowok itu.

Semakin Ari berusaha mendekatinya, semakin mati-matian Tari menjauhkan diri…

Cerita Harian - 4 Desember 2015

Hallo, udah lama banget aku gak nge-post :D. Minggu-minggu ini sibuk dan saya mungkin mengalami stress ringan. Mikirin project science, praktek seni budaya, dan tiba-tiba tadi guru agama ngasih tau kalo pertunjukan dramanya jadi. Soalnya kemarin Karen nanya Mrnya dan katanya gak jadi. Jadi, pas tadi mrnya bilang jadi langsung deh tuh kalut. Untung aja, tugas Bahasa Indonesia udah selesai dari kapan tau jadi bisa mengurangi beban-beban menjelang UAS. 

Sebenarnya nge-post ini udah ngantuk dan mau tidur, cuman mumpung kakak saya belum pulang sekolah dan laptop nganggur jadi saya mau nyari-nyari soal buat UAS lalu di print,ngirim pr inggris yang harus di kirim lewat email,nge-buka survey online yang udah lama banget gak dibuka,sama lagi mau baca-baca artikel terbaru. Jadi, saya harus memanfaatkan waktu sebelum kakak pulang dan laptop langsung di rampas olehnya. 

Segini aja curhatnya. Sebenarnya banyak banget unek-unek yang mau saya keluarin, tapi dikarenakan ini tersebar di publik jadi segini saja.

Thursday, 12 November 2015

Puisi - Tidak belajar

Aku kecewa
Dengan diriku sendiri
Betapa bodohnya aku
Selalu meremehkan pelajaran
Akibatnya nilaiku jelek

Aku menyesal
Tidak mendengarkan orang tua
Selalu berleha-leha
Membuang waktu yang diberi Tuhan untuk digunakan sebaik-baiknya

Aku berjanji akan belajar lebih giat lagi

Saturday, 7 November 2015

Puisi - Datangnya hujan

Orang-orang mulai bersorak gembira
Gersang mulai lenyap
Kekeringan tidak lagi menemani kami
Negeri ini seperti mendapatkan mukjizat yang luar biasa

Terimakasih hujan..
Karenamu tanah tidak kehausan lagi
Akhirnya kerinduanku padamu terbayar sudah
Tanaman pun kembali bangkit dari keterpurukannya

Terimakasih Hujan..
Karena engkau datang kembali
Membuat orang-orang tidak kesusahan lagi
Karenamu kami seperti orang yang 
dapat melunaskan hutang dalam sekejap



P.s : ini bisa dibilang puisi curhatan lanjutan yang kemarin. Entah mungkin puisi kemarin saya buat dari hati yang paling dalam dan akhirnya hujan juga hari sabtunya.

Sinopsis Novel - Negeri di Ujung Tanduk

Negeri di Ujung Tanduk
Judul                : Negeri di Ujung Tanduk
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tebal               : 360 halaman
Terbit               : April 2013
Sinopsis           :

Di Negeri di Ujung Tanduk kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak 
peduli lagi.

Di Negeri di Ujung Tanduk, para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan, bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian.

Tapi di Negeri di Ujung Tanduk setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci, meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan.
Sekuel Negeri Para Bedebah (Anugerah Pembaca Indonesia 2012)
asd


Friday, 6 November 2015

Sinopsis Novel - Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Judul : Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 264 halaman
Sinopsis :

Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik.


Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.


Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.


Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah... Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.